PENASULTRAID, MAKASSAR – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 23 provinsi di Indonesia mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada minggu pertama (M1) Maret 2026. Sementara itu, 15 provinsi lainnya tercatat mengalami penurunan IPH dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti mengungkap kenaikan harga di puluhan provinsi tersebut dipicu fluktuasi harga sejumlah komoditas pangan utama.
“Komoditas penyumbang andil kenaikan IPH di 23 provinsi yang mengalami kenaikan adalah cabai rawit, daging ayam ras dan daging sapi,” ujar Amalia dalam Rapat Koordinasi TPID secara nasional yang digelar secara hibrid, baru-baru ini.
Berdasarkan data SP2KP Kemendag hingga 6 Maret 2026, Jakarta menjadi provinsi dengan kenaikan IPH tertinggi mencapai 3,39%. Komoditas pemicu utama di ibu kota meliputi daging ayam ras, bawang merah dan cabai rawit.
Nusa Tenggara Barat menyusul dengan kenaikan 2,67% yang dipicu cabai rawit, daging sapi, bawang merah. Kemudian Sulawesi Barat 1,41% yang dipicu daging ayam ras, ikan kembung, serta cabai rawit.
Di sisi lain, penurunan IPH terdalam di Bengkulu sebesar -1,65%, diikuti Sumatera Utara -1,44% dan Kalimantan Timur -1,26%. Pada wilayah-wilayah ini, cabai merah dan beras merupakan komoditas utama yang memberi andil penurunan harga.
Secara lebih mendalam, data BPS menunjukkan dinamika jumlah kabupaten/kota yang mengalami fluktuasi harga hingga pekan pertama Maret 2026, yaitu cabai rawit sebanyak 177 kabupaten/kota, masih mengalami kenaikan harga, meski jumlahnya menurun dibanding pekan keempat Februari (221 wilayah).


Discussion about this post