DM hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan di Dunia termasuk di Indonesia. Jumlah penderita Diabates Mellitus (DM) dari tahun ketahun cenderung mengalami peningkatan.
Berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF), jumlah penderita DM sebanyak 387 juta jiwa di tahun 2014, meningkat menjadi 415 juta jiwa di tahun 2015 dan diperkirakan akan bertambah menjadi 592 juta jiwa pada tahun 2035 Indonesia adalah negara peringkat keenam di dunia setelah Tiongkok, India, Amerika Serikat, Brazil dan Meksiko dengan jumlah penyandang Diabetes usia 20-79 tahun sekitar 10,3 juta orang.
Angka kejadian DM di daerah Sulawesi Tenggara (Sultra) lebih tinggi dari angka nasional 2,1 persen. Dimana 2017, terdapat lebih dari 1.000 kasus baru terdiagnosis DM. Mengingat jumlah penderita DM yang terus meningkat maka perlu segera ditangani antara lain dengan pengontrolan asupan makanan yang dikonsumsi (DM).
Bagi penderita diabetes, pola konsumsi makanan (diet) harus diatur dengan cara mengkonsumsi makanan yang mempunyai indeks glikemik (IG) rendah agar tidak terjadi peningkatan kadar glukosa darah.
Indeks glikemik adalah angka yang menunjukkan potensi peningkatan gula darah dari karbohidrat yang tersedia pada suatu pangan atau secara sederhana dapat dikatakan sebagai tingkatan atau rangking pangan menurut efeknya terhadap kadar glukosa darah.
Makanan yang mengandung indeks glikemik rendah 55 atau kurang antara lain: roti gandum, nasi merah, jus apel tanpa pemanis, kacang tanah, wortel, kacang kedelai, anggur, pisang, kismis, talas dan sebagainya. Bahan pangan tersebut sudah digunakan sebagai makanan pokok para penderita diabetes.
Namun demikian, pangan tersebut sudah mulai ditinggalkan karena harganya yang mahal dan rasanya kurang enak. Bahan pangan lain yang memiliki IG rendah dan berpotensi untuk dikembangkan bagi penderita diabetes adalah Sinonggi, Kasuami, Kambuse, dan Kabuto (SIKKATO).
SIKKATO adalah pangan lokal Sultra yang dikonsumsi oleh masyarakat Sulawesi Tenggara dari etnis yang berbeda. Sinonggi adalah makanan lokal etnis Tolaki yang terbuat dari sagu. Kasuami adalah makanan lokal etnis Buton yang terbuat dari Singkong. Kambose dan Kabuto adalah makanan lokal etnis Muna. Kambose terbuat dari jagung matang sedangkan Kabuto terbuat dari singkong kering.
Cara pembuatan Sinonggi adalah sagu yang disiram air mendidih sedikit demi sedikit, sambil diaduk sehingga menjadi kental, dengan kuah sayur-sayuran seperti bayam, kangkung, terong kecil, ikan dan lain-lain sebagai makanan pelengkapnya. Kasoami dibuat dari tepung ubi kayu melalui proses pengukusan.
Kambuse, dibuat dari jagung tua yang direbus. Sedangkan Kabuto dibuat dengan cara ubi yang dikeringkan dan dibiarkan berjamur, kemudian dikukus dan setelah siap singkong tersebut hanya dicampur dengan parutan kelapa untuk menambahkan rasa gurih pada kuliner yang satu ini.
Sebagai bahan makanan pokok fungsional, SIKKATO sebenarnya memiliki banyak manfaat kesehatan yang belum dikenal secara massif, salah satunya adalah untuk mengontrol bahkan untuk menurunkan kadar gula darah puasa penderita DM.


Discussion about this post