PENASULTRAID, KONAWE – Pengurus Besar Himpunan Pengusaha Tolaki Indonesia (PB-HIPTI) menyampaikan kecaman keras terhadap PT. Sulawesi Cahaya Mineral (PT. SCM) atas sikap dan kebijakan perusahaan yang dinilai ingkar komitmen, tidak konsisten, serta mencederai kepercayaan masyarakat dan pemerintah daerah, khususnya di Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe.
Berbagai aksi protes dan demonstrasi yang saat ini berlangsung di Routa bukanlah tindakan tanpa alasan, melainkan akumulasi kekecewaan dan rasa dikhianati oleh masyarakat.
Sejak awal, PT. SCM menjanjikan pembangunan smelter, pembukaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan. Namun dalam praktiknya, perusahaan hanya mengambil sumber daya alam dan meninggalkan dampak sosial serta lingkungan.
Secara historis, PT. SCM telah memperoleh berbagai kemudahan dan privilege dari pemerintah daerah dan provinsi, termasuk penguasaan wilayah tambang dengan cadangan yang sangat besar.
Dukungan tersebut diberikan dengan dasar komitmen pembangunan smelter di Kabupaten Konawe, hingga masyarakat rela melepaskan tanah dan ruang hidupnya demi investasi tersebut.
Fakta di lapangan justru menunjukkan hal yang bertolak belakang. Setelah produksi berjalan, Konawe hanya dijadikan wilayah eksploitasi, sementara hasilnya dialirkan ke PT. IMIP di Morowali melalui sistem pipa.
Tindakan ini merupakan pengingkaran nyata atas komitmen investasi, sekaligus pengkhianatan terhadap harapan masyarakat Routa dan Sulawesi Tenggara.
Ketua Umum PB-HIPTI, Rusmin Abdul Gani menegaskan bahwa semestinya investasi harus berjalan seiring dengan keadilan dan keberpihakan kepada masyarakat lokal.
“Apa yang dilakukan PT. SCM bukan semata persoalan bisnis, tetapi menyangkut kepercayaan publik, stabilitas sosial, dan masa depan sumber daya alam Sulawesi Tenggara,” kata Rusmin, Rabu 11 Februari 2026.
PB-HIPTI menegaskan bahwa aksi demonstrasi adalah dampak, bukan penyebab masalah. Apabila situasi ini terus dibiarkan, potensi konflik sosial, kriminalisasi warga, dan rusaknya iklim investasi menjadi ancaman nyata.


Discussion about this post